Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria, menjadi narasumber pada Indonesia Climate Change Forum (ICCF) III 2025 yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (22/10). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI bekerja sama dengan Emil Salim Institute.
Dalam paparannya, Prof. Arif menjelaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi faktor disrupsi besar yang memengaruhi berbagai sektor kehidupan, termasuk pangan. Ia menegaskan bahwa dunia kini dihadapkan pada berbagai perubahan besar seperti revolusi industri, pandemi COVID-19, perang, dan munculnya proteksionisme baru yang berdampak pada tatanan global.
“Perubahan iklim, revolusi industri, COVID-19, perang, dan proteksionisme baru telah mengubah tatanan dunia, termasuk sistem pangan. Ini membawa kita memasuki era revolusi industri 5.0, di mana tidak hanya berbicara tentang digitalisasi, tetapi juga keberlanjutan, ketahanan, dan orientasi pada manusia,” ujar Prof. Arif.

Ia mengungkapkan, perubahan iklim memiliki dampak nyata terhadap produksi pangan nasional. Berdasarkan data, perubahan musim hujan di pertengahan abad dapat mencapai probabilitas 30–40 persen. Setiap kenaikan suhu sebesar satu derajat Celcius dapat menurunkan produksi beras nasional hingga 25–30 persen.
“Dampak perubahan iklim sangat nyata. Bahkan, produksi kopi global diperkirakan akan menurun drastis dan pada tahun 2080 bisa saja kopi tidak lagi tersedia jika kita tidak melakukan antisipasi,” jelasnya.
Menurutnya, inovasi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. IPB University, lanjut Prof. Arif, terus melakukan berbagai inovasi dalam bidang pertanian dan pangan berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah krisis iklim.

