Headlines

Rektor IPB University: Human Capital dan Inovasi Kunci Produktivitas Nasional

Rektor IPB University Prof. Dr. Arif Satria menegaskan, peningkatan kualitas sumber daya manusia atau human capital, dan penguatan inovasi merupakan strategi utama untuk mendorong produktivitas nasional.

Hal ini disampaikan Prof. Arif dalam diskusi Dewas Menyapa Indonesia yang diselenggarakan di Kantor Pusat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Senin (28/7/2025).

Menurut Prof. Arif, untuk mencapai target Indonesia sebagai negara ekonomi terbesar keempat dunia pada tahun 2045, diperlukan pertumbuhan ekonomi sebesar 6–7 persen per tahun. Target ini menuntut pertumbuhan yang berkualitas melalui kerangka industrialisasi yang tepat.

“Dalam kerangka industrialisasi yang tepat itulah dua kata kunci penting harus menjadi fokus, yaitu human capital dan inovasi unggul,” ujarnya.

Ia menjelaskan, human capital memiliki korelasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini ditunjukkan melalui hasil uji statistik antara Global Talent Competitive Index dan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP) per kapita per tahun.

Kata kunci kedua yang disoroti Prof. Arif adalah inovasi. Berdasarkan data Global Innovation Index, negara-negara dengan skor inovasi tinggi cenderung memiliki GDP per kapita yang lebih tinggi pula. 

Oleh karena itu, ia menegaskan, inovasi menjadi prasyarat utama bagi Indonesia untuk tumbuh menjadi negara yang makmur dan berdaya saing tinggi.

“Kalau kita ingin memajukan negara kita menjadi negara yang kaya, negara yang memiliki GDP per kapita yang tinggi, tidak ada cara lain selain inovasi yang dibangun,” kata Prof. Arif.

Lebih lanjut, Prof. Arif juga menyoroti tantangan besar dalam sistem inovasi nasional, yakni adanya jurang antara dunia akademik dan industri, yang dikenal sebagai valley of death.

“Nah persoalannya adalah inovasi perguruan tinggi, riset perguruan tinggi semakin berkembang, industri juga semakin berkembang, tapi tidak nyambung. Ini yang disebut sebagai the valley of death,” kata dia.

Prof. Arif menjelaskan, valley of death merupakan kondisi ketika tidak ada jembatan yang menghubungkan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan dan pengembangan industri.

“Nah disinilah peran kita semua untuk menciptakan jembatan itu agar riset-riset yang dihasilkan perguruan tinggi bisa menjadi inovasi, kemudian dikembangkan lagi oleh industri, dan akhirnya masuk ke pasar,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *