Bertepatan dengan Hari Pangan Nasional, Rektor IPB University Prof. Dr. Arif Satria menjadi pembicara dalam Agrifood Summit 2025 “Menata Jalan Indonesia Menjadi Lumbung Pangan Dunia” oleh CNN Indonesia, pada Kamis (16/10/2025). Selaras dengan tema yang dibawakan, Prof. Arif menyampaikan dirinya optimis Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Arif menjadi pembicara bersama Staf Khusus Menteri Bidang Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) RI Dr. Ir. Sam Herodian, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III Denaldy Mulino Mauna, Direktur Supply Chain PT Pupuk Indonesia Robby Setiabudi Madjid, dan Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani.
Dalam paparannya, Prof. Arif menyebutkan bahwa ada empat hal yang bisa mendorong Indonesia untuk menjadi lumbung pangan dunia. Pertama, political action atau strong leadership (kepemimpinan yang kuat), kedua adalah ekosistem kolaborasi.
“Yang ketiga inovasi teknologi, dan yang keempat human capital. Nah, peran kampus itu adalah pada yang kedua terakhir ini, inovasi,” ujarnya.
Prof. Arif menyebutkan, IPB University memiliki 145 varietas unggul di bidang pangan. Di mana 15 di antaranya adalah varietas padi mulai dari yang tahan salinitas, tahan naungan, tahan lahan masam, dan lahan kering.
Ia menjelaskan, produktivitas varietas tersebut mencapai sekitar 12 ton per hektare atau dua kali lipat dari rata-rata nasional. Jika produktivitas meningkat 30 persen, maka potensi tambahan produksi padi nasional dapat mencapai sekitar 9 juta ton.
“Jadi saya yakin, kalau inovasi-inovasi yang ada di kampus dengan kementerian dan sebelahnya digabung bersama-sama, itu 40 juta ton itu sesuatu yang bisa dicapai. Apalagi sekarang ini produktivitas padi di kita itu tertinggi di ASEAN. Nomor dua setelah Vietnam,” jelasnya.
Menurutnya, setelah perguruan tinggi sudah melakukan riset dan meluncurkan berbagai inovasi, tinggal selanjutnya dilaksanakan percepatan hilirisasi oleh kementerian dan lembaga. Seperti halnya yang dilakukan Kementan RI, yang mendukung IPB dengan membeli 3.000 benih padi.
Selain dari kementerian, lanjut Prof. Arif, Perum Bulog juga dapat melakukan investasi benih padi. IPB pun mampu memproduksinya secara massal untuk mendukung kebutuhan nasional.

Tak hanya benih, dia mengatakan, IPB University telah mengembangkan teknologi Automatic Weather Station (AWS) yang dapat membantu para petani. Serta pupuk Provibio yang bisa meningkatkan produksi padi sebesar hingga 1 ton GKP per Hektare.
“Ini saya kira kalau bisa dikerjasamakan Provibio IPB dengan PT Pupuk Indonesia, bisa membantu satu, masalah kerusakan lahan akibat kimia,” ucapnya.
Di sisi lain, Prof. Arif turut berbicara soal swasembada pangan. Apabila empat faktor tersebut bisa diwujudkan, maka kolaborasi untuk membangun ekosistem inovasi di bidang pertanian harus benar-benar digenjot betul.
“Dengan progres tahun ini yang luar biasa tentunya menjadi momen yang tepat ya. Itu suatu hal yang realistis. Tinggal bagaimana inovasi-inovasi kita kerja sama akal untuk diliris lebih cepat,” kata Prof. Arif.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Bidang Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian RI, Dr. Ir. Sam Herodian, menyampaikan bahwa pemerintah memiliki arah kebijakan yang berkelanjutan dalam upaya mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan nasional. Menurutnya, visi Indonesia sebagai lumbung pangan dunia telah menjadi bagian dari roadmap yang terus dijalankan sejak masa pemerintahan sebelumnya.
“Saya kira Pak Presiden, beliau dengan bangga mengatakan di forum dunia—dan tentu itu bukan sembarangan. Jadi sesungguhnya roadmap ini sudah berkelanjutan sejak masanya Pak Jokowi. Jadi ini perpindahan yang smooth dari periode sebelumnya,” ujarnya.
Dr. Sam menjelaskan, salah satu fokus utama pemerintah adalah peningkatan produktivitas, khususnya untuk komoditas padi. Upaya tersebut dilakukan melalui intensifikasi dan peningkatan indeks pertanaman agar hasil produksi semakin optimal.
“Untuk padi, satu yang pertama adalah kita mengintensifkan, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan indeks pertanaman,” tuturnya.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah konkret dalam program hilirisasi sektor pertanian, termasuk untuk komoditas perkebunan dan rempah-rempah. Ia menyebutkan bahwa Presiden telah menyiapkan anggaran besar untuk memperkuat rantai nilai di dalam negeri.
“Untuk perkebunan dan rempah-rempah, kita siapkan program hilirisasi. Pak Presiden sudah menyiapkan dana yang sangat besar untuk program ini. Tahun ini kita menyiapkan bahan bakunya, sehingga dalam tiga sampai empat tahun ke depan, komoditas seperti kelapa yang selama ini diekspor dalam bentuk gelondongan bisa diolah di dalam negeri. Nilai tambahnya besar sekali—bisa seratus persen lipat—dan itu nanti ada di kita,” jelasnya.

