Headlines

Guru Besar IPB Sampaikan Orasi Ilmiah tentang Pangan, Kehutanan, Pemberdayaan Desa, dan Kesehatan Mastarakat

Rektor IPB University Prof. Dr. Arif Satria memberikan apresiasi atas kontribusi empat guru besar yang menyampaikan orasi ilmiahnya pada Sidang Terbuka Guru Besar IPB University, Sabtu (30/8/2025) di Kampus Dramaga, Bogor.

Prof. Arif mengatakan, orasi ilmiah ini mencerminkan komitmen IPB University untuk terus menghadirkan inovasi lintas disiplin, mulai dari pangan, lingkungan, pemberdayaan desa, hingga kesehatan masyarakat, demi mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

“Orasi ilmiah hari ini menunjukkan keberagaman kontribusi keilmuan IPB, mulai dari peternakan, kehutanan, pemberdayaan desa, hingga pengembangan obat herbal. Semua ini memperkuat komitmen IPB untuk terus menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan bangsa,” ujar Prof. Arif.

Pada kesempatan ini, orasi ilmiah disampaikan oleh Prof. Dr. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr. (Fakultas Peternakan), Prof. Dr. Ir. Ahmad Budiaman, M.Sc. (Fakultas Kehutanan dan Lingkungan), Prof. Dr. Sofyan Sjaf (Fakultas Ekologi Manusia), serta Prof. Dr. Mega Safithri, S.Si., M.Si. (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam).

Orasi pertama disampaikan Prof. Dr. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr., Guru Besar Fakultas Peternakan, dengan topik “Konsumsi Susu Indonesia Masih Rendah, Ahli Dorong Rekayasa Nutrisi Presisi”. 

Ia menyoroti konsumsi susu masyarakat Indonesia yang baru mencapai 16,5 liter per kapita per tahun, jauh tertinggal dari negara tetangga. Menurutnya, solusi dapat ditempuh dengan penerapan rekayasa nutrisi presisi yang mencakup sinkronisasi nutrien dalam rumen, proteksi protein, dan suplementasi presisi.

“Ini bukan lagi sekadar teori. Rekayasa nutrisi presisi sudah terbukti meningkatkan efisiensi pemanfaatan nitrogen, produksi susu, hingga kualitas susu. Jika diterapkan secara luas, ini bisa menjadi tonggak kemandirian industri persusuan Indonesia,” tegas Prof. Idat.

Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Ahmad Budiaman, M.Sc., Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, menyampaikan orasi berjudul “Pengembangan Teknik Pemanenan Hutan Ramah Lingkungan Skala Kecil dan Tepat Guna untuk Mendukung Pengelolaan Hutan Rakyat Berkelanjutan di Indonesia”. 

Ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas petani hutan rakyat melalui pelatihan, kemudahan perizinan, fasilitasi kerjasama penjualan kayu, hingga kompensasi biaya pemeliharaan hutan agar keberlanjutan hutan rakyat dapat terjaga.

“Pemanenan hutan rakyat dan bisnis hutan rakyat di Indonesia akan lestari jika keberadaan hutan rakyat dapat dipertahankan. Karena itu, dukungan berupa pelatihan, fasilitas administrasi, hingga kompensasi pembangunan hutan sangat penting untuk meningkatkan kapasitas petani dan pekerja hutan rakyat,” jelas Prof. Budiaman.

Orasi berikutnya disampaikan Prof. Dr. Sofyan Sjaf, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia, yang mengangkat topik “Data Desa Presisi (DDP) sebagai Gerakan Dekolonisasi Data”. 

Ia menegaskan bahwa sistem pendataan yang top-down dan agregatif selama ini membuat warga desa, khususnya kelompok rentan, tidak terlihat dalam kebijakan. DDP hadir dengan menempatkan warga sebagai subjek dan pemilik data, serta telah diterapkan di 1.239 desa/kelurahan di 16 provinsi.

“DDP merupakan bentuk nyata dari dekolonisasi data dan menjadi gerakan tindakan kolektif warga menuju kedaulatan pengetahuan,” ujar Prof. Sofyan.

Terakhir, Prof. Dr. Mega Safithri, S.Si., M.Si., Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, membawakan orasi berjudul “Pengembangan Obat Herbal sebagai Obat Antidiabetes Melitus dalam Meningkatkan Kemandirian Kesehatan Masyarakat Indonesia”. 

Ia memaparkan hasil penelitian sejak 2005 tentang kombinasi ekstrak sirih merah, jahe merah, dan kayu manis yang menghasilkan formula SIJAKA. Formula ini terbukti menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes setara dengan obat standar glibenklamid, serta kini dalam tahap pendaftaran BPOM.

“Obat herbal berperan penting dalam kemandirian kesehatan karena dapat diolah sendiri, murah, dan mudah diakses, serta dapat menjadi alternatif pengobatan yang efektif untuk berbagai penyakit,” tutur Prof. Mega.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *