IPB University kembali mengadakan Sidang Terbuka Orasi Ilmiah pada Sabtu (25/10/2025). Momen orasi ilmiah ini merupakan wujud nyata komitmen IPB sebagai perguruan tinggi dalam menyebarkan ilmu, membangun harapan, dan menggerakkan perubahan.
Pada kesempatan ini, empat Guru Besar IPB yang menyampaikan gagasannya yaitu Prof. Ani Kurniawati (Guru Besar Tetap FAPERTA), Prof. Huda Shalahudin Darusman (Guru Besar Tetap SKHB), Prof. Muh. Taufik (Guru Besar Tetap FMIPA), serta Prof. Dwi Hastuti (Guru Besar Tetap FEM). Masing-masing guru besar memaparkan inovasi di bidang agronomi tanaman kosmetik, farmakologi kedokteran komparatif, ekohidrologi gambut, serta sinergisme pembentukan karakter anak.
Rektor IPB University Prof. Arif Satria membuka Sidang Terbuka Orasi Ilmiah dan menegaskan bahwa gelar Guru Besar mengandung tanggung jawab keilmuan untuk kemajuan bangsa.
“Gelar kehormatan ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk terus berbagi pengetahuan bagi kemajuan bangsa,” ujarnya.
Dalam paparannya, Prof. Ani Kurniawati menekankan pentingnya perspektif agronomi dalam penyediaan bahan baku tanaman untuk mendukung industri kosmetik alami. Indonesia memiliki potensi besar karena kekayaan biodiversitas serta tradisi pemanfaatan tanaman sebagai kosmetik di berbagai daerah.
“Perspektif agronomi menjadi landasan dalam menghasilkan bahan baku tanaman sebagai sumber bahan dalam industri kosmetik berbasis bahan alam. Optimalisasi faktor lingkungan tumbuh, potensi genetik, fenologi pertumbuhan, dan teknologi budidaya akan mengurangi variabilitas kandungan senyawa bioaktif dan memaksimalkan biomassa,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Huda Shalahudin Darusman memaparkan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia melalui pendekatan farmakologi dan kedokteran komparatif. Kajian yang dilakukan mulai dari tingkat molekul hingga organisme hidup, termasuk satwa primata yang memiliki nilai translasional tinggi.
“Sinergi multidisiplin tersebut, dan didukung pemanfaatan sumber daya yang berbasis kaidah etika bioprospeksi yang strategis, nilai tambah sumber daya hayati diharapkan dapat berjalan secara produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. M. Taufik mengangkat kontribusi ekohidrologi dalam mendukung agenda ekonomi hijau Indonesia, khususnya pada pengelolaan dan pemulihan ekosistem gambut. Indonesia memiliki sekitar 14 juta hektare lahan gambut yang menyimpan cadangan karbon besar dan menjadi penopang ekosistem serta kehidupan masyarakat.
Menurutnya, ekohidrologi merupakan pendekatan interdisipliner yang relevan untuk menjawab tantangan degradasi gambut.
“Terdapat tiga proses penting terkait ekohidrologi gambut, meliputi: Pengaruh tutupan vegetasi terhadap kekeringan hidrologi, Faktor hidrologi penentu kebakaran gambut, dan Hubungan hidrologi dan emisi karbon dalam konteks ekonomi hijau,” ucapnya.
Sementara itu, Prof. Dwi Hastuti menyoroti pentingnya pembentukan kualitas dan karakter anak sebagai pondasi pembangunan bangsa. Ia menekankan bahwa pengasuhan tidak dapat berjalan optimal tanpa sinergi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam menghadirkan program perlindungan anak yang efektif.
“Sinergisme yang dimaksud adalah penguatan pengasuhan melalui kerjasama ketiga pihak tersebut yang dilihat dari faktor determinan serta program pengasuhan dan perlindungan anak. Selain itu, upaya ini juga akan menciptakan atmosfer trust atau saling percaya, yang merupakan dasar bagi terbentuknya karakter anak yang kuat,” tegasnya.

