Headlines

Dalam Dialog Islam-Konghucu, Rektor IPB Bahas Peran Keluarga untuk Keharmonisan Dunia

Rektor IPB University Prof. Dr. Arif Satria menjadi salah satu pembicara dalam Dialog Islam-Konghucu yang digelar di Kantor Kementerian Agama, Jumat (17/10/2025). Dalam dialog bertema “Membangun Keharmonisan Dunia Berpokok pada Keharmonisan Keluarga” ini, Prof. Arif membahas bagaimana keharmonisan keluarga berperan dalam kemajuan dunia.

Dialog keagamaan ini diikuti oleh 250 peserta yang sebagian besar berasal dari umat Islam dan Konghucu, serta kalangan tokoh lintas Iman. Menteri Agama Nasaruddin Umar juga turut hadir dalam kegiatan ini.

Dalam paparannya, Prof. Arif menyampaikan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam mentransformasi bangsa. 

“Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana keluarga bisa offensive, memberikan pengaruh besar bagi sebuah bangsa. Hakikat dialog hari ini adalah berbicara tentang peran keluarga dalam konteks mentransformasi bangsa ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, keluarga tidak hanya perlu bersikap defensif menghadapi tekanan dari luar, tetapi juga harus mampu memberikan pengaruh positif terhadap tatanan sosial yang lebih luas. 

“Ketika itu dari extended family, maka sebenarnya perannya lebih besar bagi sebuah tatanan besar. Oleh karena itu, kerja sama ini menjadi penting agar kita tidak sekadar defensive, tapi juga offensive,” jelasnya.

Prof. Arif juga menekankan pentingnya konsep keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam Islam. Ia mengatakan, stabilitas keluarga terletak pada ketenangan dan stabilitas, yang merupakan kata kunci pada konsep sakinah.

“Stabilitas keluarga terletak pada sejauh mana keluarga memiliki ketenangan dan stabilitas. Konsep sakinah adalah hal yang penting, ketenangan batin menjadi sumber segala hal, sumber obat, dan sumber ilmu,” terangnya.

Mengutip pemikiran Ibnu Sina, ia mengatakan bahwa ketenangan adalah separuh obat, sementara kepanikan adalah separuh penyakit. Selain ketenangan, ada tiga kata kunci lain yang merupakan konsep sakinah.

 “Positive thinking, sikap bersyukur, dan sabar menjadi fondasi stabilitas keluarga,” tambahnya.

Lebih lanjut, Prof. Arif menjelaskan bahwa mawaddah bermakna cinta yang saling memberi, sedangkan rahmah berarti kasih sayang yang bersumber dari Allah dan tercermin dalam hubungan antar anggota keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *