IPB University kembali menambah deretan guru besar melalui Orasi Ilmiah Guru Besar yang digelar pada Sabtu (20/9/2025) di Kampus IPB Dramaga, Bogor. Empat profesor dari berbagai fakultas menyampaikan gagasan strategis sesuai bidang keahliannya, mulai dari pertanian, kehutanan, teknologi pertanian, hingga ekologi manusia.
Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria, menegaskan bahwa orasi ilmiah para guru besar bukan hanya ajang akademik, tetapi juga kontribusi penting dalam menjawab tantangan global dan nasional yang semakin kompleks.
“Pengembangan ilmu pengetahuan harus memberi manfaat nyata bagi keberlanjutan, keadilan sosial, dan masa depan bangsa,” ujarnya.
Prof. Dr. Abdjad Asih Nawangsih dari Fakultas Pertanian menekankan peran bakteri aktinomiset dalam pengendalian hayati penyakit tanaman sekaligus meningkatkan pertumbuhan. Potensi ini menjadikannya solusi ramah lingkungan untuk pertanian berkelanjutan.
“Aktinomiset menunjukkan potensi yang signifikan dalam pengendalian hayati penyakit tanaman karena produksi senyawa bioaktif dan enzim ekstraselulernya, yang secara langsung menekan patogen melalui aktivitas antibakteri dan anti cendawan, dan secara tidak langsung dengan menginduksi ketahanan tanaman. Aktinomiset juga memproduksi fitohormon dan siderofor, menjadikannya solusi dwiguna untuk pertanian berkelanjutan,” jelasnya.

Prof. Dr. Ricky Avenzora dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan menyoroti pembangunan pariwisata di Indonesia yang belum optimal karena lemahnya kompetensi akademis, tumpang tindih kebijakan, serta birokrasi yang tidak efektif. Ia mendorong paradigma baru ekowisata yang berlandaskan nilai Ilahiah.
“Rekreasi dan pariwisata tidak boleh lagi hanya didefinisikan sebagai perjalanan untuk being free atau a freedom of regimen, melainkan harus dimaknai sebagai perjalanan yang berkesadaran Ilahiah untuk mencari dan membangun kehakikian jati diri agar bisa menjadi individu dan masyarakat yang bermanfaat bagi semesta alam; disebut sebagai ekowisata,” ujar Prof. Ricky.
Prof. Dr. I Wayan Budiastra dari Fakultas Teknologi Pertanian menekankan pentingnya pengembangan teknik evaluasi mutu non-destruktif dan teknologi pengolahan berbasis gelombang elektromagnetik. Inovasi ini diyakini mampu meningkatkan produktivitas, mutu, dan daya saing hasil pertanian.
“Pengembangan teknik evaluasi mutu secara non-destruktif dan teknologi pengolahan hasil berbasis gelombang elektromagnetik menjadi strategi penting untuk meningkatkan produktivitas, mutu, efisiensi dan daya saing produk pertanian Indonesia,” ucapnya.
Prof. Dr. Lilik Noor Yuliati dari Fakultas Ekologi Manusia menekankan peran nudging atau dorongan halus yang dipadukan dengan media sosial dalam membentuk perilaku konsumsi berkelanjutan pada Generasi Z. Strategi ini dapat menjembatani kesadaran dengan tindakan nyata, serta menjadikan keberlanjutan sebagai gaya hidup aspiratif.
“Nudging menawarkan metodologi yang halus namun ampuh untuk mengarahkan individu dalam membuat keputusan yang lebih sadar lingkungan tanpa membatasi kebebasan memilih mereka secara ketat,” kata Prof. Lilik.

